Asesemen Nasional Malah Manjadi Beban Warga Pendidikan Indonesia

www.siswanesia.com

Dok. Pexel

 

Kebijakan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim untuk menerapkan Pendidikan Jarak Jauh selama pandemi. Pendidikan Jarak Jauh atu PJJ nyatanya masih menjadi beban untuk warga Pendidikan. Seperti halnya siswa, guru, dan orang tua.

Hal tersebut mengacu kepada dampak buruk Pendidikan Jarak Jauh yang juga menelan korban jiwa. Pada awalnya Pendidikan Jarak Jauh ditujukan untung mencegah warga Pendidikan tertular covid-19. Maka dari itu kegiatan pembelajaran secara tatap muka terpaksa diliburkan.

 

Baca : Negara Lain Tertarik Program Kouta Balajar Dari Kemendikbud

 

Kasus pertama jatuhnya korban jiwa akibat Pendidikan Jarak Jauh terjadi pada anak Sekolah Dasar (SD). Peserta didik tersebut meregang nyawa akibat dibunuh oleh ibu kandungnya. Sebelumnya anak tersebut tidak dapat memahami pelajaran yang diberikan. Karena kehabisan kesabaran sang ibu tega membunuhnya.

 

Kasus Meninggal Akibat PJJ

Kemudian kasus bunuh diri yang yang menewaskan siswi SMA. Kasus ini terjadi di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Korban diduga mengakhiri hidupnya karena terbebani tugas sekolah yang menumpuk. Ditambah lagi koneksi internet didaerahnya sangatlah terbatas.

Kasus ketiga menimpa pelajar SMP yang duduk dikelas 9. Menurut keterangan warga pelajar ini tewas akibat tugas yang menumpuk dan surat peringatan dari pihak sekolah. Akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

 

Baca : 5 Jurus Sistem Pendidikan Finlandia Terbaik Dunia

 

Melihat permasalah dari Pendidikan Jarak Jauh yang belum usai ditambah lagi akan dilaksanakannya Asesmen Nasional (AN). Nantinya AN akan menjadi standar nasional kelulusan dari satuan Lembaga Pendidikan. Namun menurut Koordinator Pimpinan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim ini terlalu dipaksakan.
’’Anak-anak kita sudah terbebani secara psikologis selama PJJ, tahu-tahu mereka harus menjalani Asesmen Nasional,’’ ucap dia kepada JawaPos.com, Minggu (1/11).

Menurutnya hal tersebut tidakla adil, sebab masih banyak yang mengetahui apa aitu Asesmen Nasional (AN). Sosialisasi yang dilakukan Mandiem Makarim bersama Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan (Kemendikbud) masih melum merata.

 

Baca : Diduga Tewas Karena Terbebani Tugas Sekolah Daring

 

’’Ini kan tidak adil bagi anak, orang tua dan guru. Jadi lebih bijak kalau diundur, karena bulannya (pelaksanaan AN) juga mempengaruhi persepsi (AN sama dengan UN) itu. Jadi jangan hanya sosialisasinya berupa konten pdf, ppt, YouTube atau Instagram,” imbuhnya.

Orang tua mesti diberikan pemahaman yang utuh, Mendikbud Nadiem Makarim diminta untuk mengintruksikan jajarannya dalam mensosialisasikan secara pasti dan berkala kepada dinas pendidikan (disdik) daerah.

’’Agar mereka menggunakan perangkat-perangkatnya di daerah, kepada orang tua, siswa, komite sekolah dan guru. Jadi jangan seolah-olah lepas tangan dengan membuat pdf, ppt, YouTube berisi informasi, selesai perkara. Tidak semudah itu, karena Indonesia itu luas,’’ tegas dia. (*)

 

Sumber : Jawa Pos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *