Kemendikbud Terapkan Sistem Buka Tutup Pendidikan Indonesia

www.siswanesia.com

Dok. Pexel

 

Pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) banyka perubahan yang akan dilakukan oleh kemendikbud untuk menemukan pola pembelajaran yang tepat. Maka dari itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem menyampaikan pesan kepada unit Pendidikan. Beliau berpesan untuk selalu menyesuaikan diri pada system buka tutup.

“Pada masa adaptasi kebiasaan baru, kita sebagai sistem pendidikan harus bisa belajar untuk buka tutup sekolah, kalau tidak kita tidak memberikan kesempatan pada anak untuk belajar karena tidak seluruhnya melakukan pendidikan jarak jauh (PJJ) secara optimal,” ujar Nadiem Makarim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu. Dikutip dari Antara.

 

Baca : Pulsa dan Ponsel Gratis Untuk Pendidikan Jarak Jauh

 

Beliau juga menambahakan bahwa system buka tutup sector Pendidikan juga diterapkan dinegara lain. Pada dasarnya pembukaan sekolah tidak dilakukan secara merata. Pembukaan sekolah disesuaikan dengan kondisi di setiap daerah yang berbeda- beda.

Saat ini pemerintah melalui Kemendikbud telah melakukan beberapa pembukaan sekolah dizona kuning dan hijau. Pembukaan sekolah dapat dilakukan dengan persetujuan dari pemerintah daerah, kepada sekolah, komite sekolah, dan orang tua peserta. Bagi orang tua siswa yang belum mengizinkan untuk mengikuti pembelajaran disekolah maka unit Pendidikan maupun pemerintah atau keduanya tidak dapat memaksa.

System buka tutup akan berlaku secara otomatis jika terjadi beberapa perubahan. Pertama, jika terjadi perubahan status daerah dari zona kuning menjadi zona orange, maka sekolah akan ditutup. Sama halnya jika ada peserta didik ataupun guru yang terinfeksi covid-19. Pembukaan sekolah akan kembali dilakukan jika keadaan kembali membaik.

 

Baca : Pendidikan Jarak Jauh Membunuh Pendidikan Indonesia!

 

 

Ekstrakurikuler Ditiadakan

Penerapat pembelajaran tatap muka akan dilakukan secara bertahap. Syaratnya 30% hingga 50% dari jumlah siswa disatu kelas. Dari yang sebelumnya 28 hingga 30 siswa per kelas. Dengan adanya syarat tersebut maka setiap kelas akan diisi oleh 18 peserta didik. Ini berlaku untuk jenjang Pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sekolah Luar Biasa (SLB) sebelumnya lima hingga delapan siswa menjadi hanya lima siswa. Untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebelumnya 15 peserta didik dirubah manjadi lima peserta didik perkelasnya.

 

 

Baca : Pendidikan Jarak Jauh Rewel, Kemendikbud Buka Sekolah!

Dengan pembagian peseta didik disetiap kelasnya maka akan terjadi system rotasi atau shifting. Untuk bagaimana pembagiannya Kemendikbud menyerahkan sepenuhnya peda sekolah masing-masing. Selain system rotasi atau shifting yang akan diterapkan, jam pelajaran juga akan dikurangi.

Kemendikbud juga mengingatkan kepada sekolah untuk selalu menerapkan protocol Kesehatan yang ketat. Tidak ada kegiatan aktivitas lain seperti kantin, tempat bermain atau olahraga dan ekstrakurikuler. Siswa hanya diperbolehkan untuk belajar disekolah lalu pulang.

 

Sumber : Antara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *