Literasi Mempengaruhi Biaya Pendidikan Dimasa Depan

www.siswanesia.com

Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami. Foto: Zoom. Doc. Medcom

 

Untuk melahirkan masyarakat yang memiliki pengetahuan (Knowladge society) adalah tugas yang berat. Karena menyangkut beberapa aspek seperti literasi, pendidikan dan kebudayaan. Tingkat literasi yang rendah pada masyarakat akan menimbulkan banyak konsekuensi yang harus dihadapi. Konsekuensinya adalah biaya pendidikan akan semakin tinggi.

Menurut Direktur Agama, Pendidikan dan kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bapak Amich Alhumama. Pendidikan dalam hal ini literasi sangat erat kaitannya dengan kebudayaan dan Sumber Daya Alam. Maka dari itu literasi berkaitan penting dengan pendidikan dan kebudayaan.

 

Baca : Pancasila Tak Hanya Hafalan Ini Gagasan Nadiem Makarim

Selain itu pendidikan adalah awal untuk mengubah arah kehidupan. Pendidikan disini berperan penting untuk meningkatkan kualitas literasi dimasyarakat. Semakin baik pendidikannya maka semakin baik pula literasinya.

“Sebaliknya dengan literasi yang rendah justru bisa dipastikan akan menimbulkan konsekuensi lain yang lebih memakan biaya dan menyita waktu. Maka, penting membekali anak dengan keterampilan baca, khususnya di rentang usia 8-10 tahun,” ujar Amich, pada Rakornas Bidang Perpustakaan 2021, Selasa, 23 Maret 2021.

Lebih jauh Amich menjabarkan, konsekuensi yang dirasakan ketika literasi rendah:

  1. Biaya pendidikan lebih mahal
  2. Tidak produktif ketika memasuki dunia kerja
  3. Pendapatan rendah yang berimbas pada kesejahteraan
  4. Ongkos kesehatan menjadi mahal
  5. Angka kriminalitas meningkat

 

Lingkungan Kerja

Dari lingkungan kerja misalnya, Amich juga menerangkan bahwa pekerja harus memiliki kemampuan baca yang baik. Ditambah lagi Indonesia memiliki penduduk yang bekerja sangat besar dan tersebar diberbagai bidang pekerjaan. Tingkat baca yang baik akan mempengaruhi produktivitas dalam bekerja.

 

Baca : Fakultas Favorit di SNMPTN Tahun 2021

Didukung dengan kemajuan teknologi yang memiliki peran penting untuk meningkatkan perekonomian. Oleh karena itu masyarakat harus memiliki kemampuan baca dan analisis yang baik. Sehingga kemampuan baca yang tinggi akan mempengaruhi produktivitas.

“Sebaliknya di negara yang belum menjadikan keterampilan membaca sebagai ukuran kinerja di tempat kerja cenderung kurang produktif atau produktivitasnya rendah,” tambah Amich.

Menurut data Global Knowledge Indeks 2020 yang dirilis Bappenas, diketahui bahwa Indonesia menempati peringkat ke-81 dari 138 negara, dan peringkat ke-23 dari 36 negara dengan pembangunan manusia yang tinggi. Sedangkan, di lingkup ASEAN, Indonesia malah berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

 

Baca : PPDB 2021 Sekolah Swasta Dapat Jatah dari Sekolah Negeri

“Perlu perbaikan serius untuk mengatasi disparitas yang mencakup aspek ekonomi, pendidikan, teknologi, riset ilmiah, dan vokasi. Dengan kata lain, Indonesia masih perlu melakukan upaya peningkatan kapasitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai strategi, program, dan kegiatan yang tepat,” pungkas Amich.

 

Sumber : Medcom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *