Lulusan Perguruan Tinggi Tidak Kuat Tekanan di Dunia Kerja

www.siswanesia.com

Photo by cottonbro from Pexels

 

Muhammad Nur Rizal seorang pengaman Pendidikan mengatakan bahwa, Indonesia membutuhkan renainsans di bidang teknologi. Peradaban yang semakin maju ini, Indonesia membutuhkan revolusi secara fundamental dalam berpikir tentang paradigma Pendidikan.

“John Dewey bilang kondisi suatu bangsa bisa dilihat dari muka di kelas-kelasnya, maka pendidikan menjadi kunci utama dalam mendorong masyarakat Indonesia survive melewati gesekan konflik pergeseran peradaban ini,” kata Nur Rizal, Rabu (10/2).

 

Baca : Kemenperin Siapkan Pendidikan Vokasi Setara D1 Gandeng Industri Lokal

Pendidikan yang dipersiapkan harus berdasar pada human centered dan personalisasi. Sebab peran Pendidikan yang paling utama adalah bagaimana percepatan teknologi dapat dilaksanakan dimasa yang akan datang. Percepatan ini tidak boleh menggerus peran manusia dalam kehidupan sehingga Pendidikan yang berbaur dengan teknologi dapat diwujudkan.

“Artinya, yang diajarkan tidak hanya mengenai konten-konten pendidikan berbasis akademik melainkan skill dan knowledge mengenai ketahanan diri di masa depan, seperti life skill, social skill dan mental balance,” tutur founder Gerakan Sekolah Menyenangkan'(GSM) ini.

 

Tekanan Dunia Kerja

Menurutnya kualitas SDM dari lulusan perguruan tinggi rata-rata mempunyai masalah yang sama. Yaitu tidak kuat menghadapi tekanan dunia kerja, kurang komunikasi lisan dan tulisan. Selain itu kurang bisa berkerja sama dengan tim serta inisiatif salam bekerja juga kurang. Hal ini adalah tanda bahwa senaisans dalam bidang Pendidikan sangata dibutuhkan.

 

Baca : Tak Ada Perubahan, Pembelajaran Tetap Online di Tahun 2021!

“Pendidikan yang dipraktikkan harus bisa memantik empati dan kepedulian masing-masing individu terhadap peran kemanusiaan di masa depan dan complex problem solving untuk permasalahan yang ada di sekitar,” terangnya.

Beliau yang juga seorang dosen fakultas teknik universitas gajah mada (UGM) mengatakan. GSM dan Balai Besar Penjamin Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI) telah menyelenggarakan workshop guna mensinergikan antara peran birokrasi dan kekuatan akar rumput.

Pergeseran peran leadership yaitu birokrat yang semula cenderung mengurusi masalah administrative, menuju purposefulness leadership. Yaitu leader yang akan mengarahkan visi kedepat dengan empati.

 

Baca : Revisi Undang-Undang Pendidikan Jadi Omnibus Law Klaster Pendidikan?

“Para birokrat didorong untuk menjadi innovator disruptor yang membawa visi kemanusiaan sebelum disrupsi mengendalikan kemanusiaan seutuhnya,” pungkas Nur Rizal.

 

Sumber : jpnn.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *