Nadiem Makarim Ingatkan Dosa Besar Pendidikan Yang Harus Dihapus

www.siswanesia.com

Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

 

Nadiem Makarim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kembali mengingatkan soal dosa besar dalam pendidikan. Dosa besar yang dimaksud Nadiem adalah intoleransi, kekerasan seksual dan perundungan. Kegita dosa tersebut adalah kasus yang sering terjadi di lingkungan pendidikan Indonesia.

Nadiem berpendapat kekerasan khususnya secara seksual sering terjadi karena ketidaksetaraan gender. “Kita juga memerangi kekerasan seksual yang juga sangat berhubungan dengan kesetaraan gender,” kata Nadiem, dalam webinar The Power of Unreasonable Women, Senin (15/3).

 

Baca : Nadiem Makarem Pastikan Frasa Agama Masuk Peta Jalan Pendidikan

 

Nadiem menjelaskan bahwa kegiatan dosa besar tersebut adalah bentuk dari intoleransi. Selain itu penyalahgunaan kekuasaan oleh kelompok mayoritas atau komponen mayoritas dari semua masyarakat.

“Jadi intinya, kalau kita mencoba mengatasi permasalahan satu persatu, kita bukannya menyerang akar permasalahannya. Kenapa kita tidak serang tiga-tiganya?” kata Nadiem menambahkan.

Tiga dosa ini sedikit demi sedikit akan dihilangkan. Kemendikbud berupaya dengan menggunakan Pancasila melalui ideologi bangsa. Masyarakat harus ditekankan bahwa seluruh manusia setara dan harus diperlakukan secara adil.

 

Baca : Kampus Tak Dilibatkan Dalam Susun Peta Jalan Pendidikan

“Tidak bisa ada masyarakat yang tercermin dalam Pancasila, dalam Undang-undang juga kalau kita menyerang minoritas yang lemah,” kata dia lagi.

Lou Dena Pena CEO Publicis Communications Singapore menyampaikan pendapatnya. Menurutnya pendidikan Indonesia harus mengakui terlebih dahulu terkait tiga dosa ini. Setalah mengakuinya kebijakan boleh ditentukan untuk menghapus dosa-dosa tersebut.
“Kalau kita tidak mengakui tiga dosa ini, maka ini membuka celah kekuatan mayoritas untuk melakukan bullying, yang berakar dari gender yang lebih dominan,” kata Lou menjelaskan.

 

Baca : Nadiem Makarim Bingung Akibat Polemik Kata Agama

 

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *