Pancasila Tak Hanya Hafalan Ini Gagasan Nadiem Makarim

www.siswanesia.com

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/3/2021). Rapat tersebut membahas persiapan vaksinasi COVID-19 bagi guru, murid dan mahasiswa serta membahas persiapan pembukaan pembelajaran tatap muka sekolah di bulan Juli. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

 

Nadiem Makarim menginginkan seluruh siswa mengamalkan Pancasila. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menyebutkan bahwa Pancasila tidak hanya sekedar dihafal. Namun sila pertama hingga kelima ini harus diamalkan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

“Pancasila sampai hari ini menjadi dasar pemikiran dalam penyusunan kebijakan dan pengendali relasi sosial di masyarakat, sehingga kami menginginkan pendidikan Pancasila yang lebih dari sekedar hafalan butir-butir sila,” kata Nadiem dalam rilis survei Indikator Politik Indonesia, Minggu (21/3/2021).

 

Baca : Fakultas Favorit di SNMPTN Tahun 2021

 

Profil Pelajar Pancasila

Menurut Mas Nadiem, pendidikan pancasila yang sekarang diajarkan disekolah cenderung memberikan jarak antara kehidupan pancasila dengan kehidupan sehari-hari. Pancasila memiliki nilai yang mulia namun dalam penerapannya tidak dapat diinternalisasikan. Oleh karena itu Mas Nadiem telah menyusun program yang namnya Profil Pelajar Pancasila. Dalam konsep ini telah terkandung enam komponen pendidikan. Yaitu beriman kepada Tuhan yang maha esa dan memiliki akhlak yang mulia. Berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Pada enam komponen tersebut bertakwa kepada Tuhan menjadi dasar acuan untuk membentuk karakter siswa sehingga memiliki sifat integritas, spiritualitas serta moralitas yang tinggi.

Sementara, berkebinekaan global dibutuhkan untuk berkompetisi secara global, mentoleransi sekaligus mencintai perbedaan. Selanjutnya, gotong royong menjadi salah satu karakter bangsa untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan global melalui kerja sama dan kolaborasi. Pada saat yang sama, kemandirian dibutuhkan guna mencapai cita-cita dan kemauan untuk terus belajar. Kemudian, bernalar kritis merupakan kemampuan memecahkan masalah di berbagai aspek kehidupan. Sementara, kreativitas tidak hanya dimaknai di bidang seni atau budaya, tetapi juga kreatif mengambil keputusan saat menghadapi situasi baru.

 

Baca : PPDB 2021 Sekolah Swasta Dapat Jatah dari Sekolah Negeri

 

Enam Komponen PPP

Untuk komponen berkebinakaan global, siswa diharapkan memiliki kemampuan berkompetisi secara global, memiliki toleransi sekaligus mencintai perbedaan. Gotong royong adalah karakter yang telah terjalin sejak dulu yang ingin dipertahankan melalui Profil Pelajar Pancasila. Yaitu untuk mempersiapkan diri untuk mampu menghadapi tantangan global dengan cara kerja sama dan kolaborasi. Kemudian bernalar kritis ini dibutuhkan untuk bisa memecahkan masalah yang sedang atau akan dihadapi dimasa yang akan datang. Sedangkan untuk sikap kreativitas sendiri berguna untuk mendorong siswa untuk lebih kreatif tidak hanya dalam badang seni dan buaya. Namun juga dalam hal pengambilan keputusan saat menyelesaikan persoalan tertentu.

“Pendidikan Pancasila di bawah payung Merdeka Belajar dirancang dengan konsep link and match antara enam komponen profil pelajar Pancasila dengan kehidupan sehari-hari saat ini dan masa depan,” tutur Nadiem.
Nadiem pun berpesan kepada para guru untuk tidak hanya meminta siswanya menghafal butir-butir Pancasila, tetapi menjadi pendidik dan contoh pembelajar sepanjang hayat, juga sebagai warga negara yang mampu memahami, memaknai, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Namun demikian, menurut Nadiem, pembelajaran pendidikan Pancasila bukan hanya tanggung jawab guru semata, tapi seluruh pihak.

 

Baca : Melihat Perkembangan Pendidikan Dari Teknologi Virtual Reality

 

Pancasila Tanggung Jawab Semua

Untuk itu Mas Nadim menaruh harapan kepada Bapak Ibu guru di sekolah untuk mengajarkan pancasila dengan tidak hanya menghafalnya. Para guru juga berperan sebagai pendidikan dan contoh pembelajar sepanjang hayat. Tidak cukup sampai di situ, Mas Nadiem juga menginginkan pembelajaran Pancasila ini tidak hanya dibebankan kepada Bapak Ibu Guru. Namun kepada semua pihak yang peduli akan masa depan pendidikan Indonesia.

“Pendidikan Pancasila bukan hanya menjadi tugas guru mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) tetapi merupakan tanggung jawab kita semuanya,” kata dia.

 

Hasil Survei

Untuk diketahui, survei Indikator Politik Indonesia menemukan bahwa mayoritas anak muda menilai PMP dan PPKn penting untuk dimasukkan dalam mata pelajaran di sekolah. Sebanyak 82,3 persen anak muda menilai bahwa pendidikan tersebut semestinya diajarkan sejak sekolah dasar (SD). Adapun survei yang digelar Maret 2021 ini melibatkan 1.200 responden berusia 17-21 tahun. Survei dilakukan melalui telepon dan memiliki toleransi kesalahan atau margin of error kurang lebih sebesar 2,9 persen.

 

Sumber : Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *