Pendidikan Bela Negara Bukanlah Pendidikan Militer

www.siswanesia.com

Gambar oleh skeeze dari Pixabay

 

Sakti wahyu trenggono wakil Menteri pertahanan menegaskan bahwa. Pendidikan Bela Negara yang beberapa waktu lalu sempat diusulkannya kepada Kemndikbud bukanlah Pendidikan Militer.

“Itu bukan pendidikan militer, tapi bela negara. Bela negara itu bukan militer, nanti kesannya itu militerisasi,” kata Trenggono dalam sebuah wawancara radio, Rabu (19/8/2020).

Nantinya jika program tersebut benar-benar berjalan. Kementrian Pertahanan akan bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai pilar terdepan Pendidikan.

 

Baca : Kunci Indonesia Menjadi Negara Maju Adalah Pendidikan Vokasi

Pendidikan Bela Negara bukan hanya dikhususkan untuk mahasiswa saja. Namun lebih baiknya Pendidikan Bela Negara diikuti oleh semua warga negara.

“Sebenarnya tidak hanya untuk mahasiswa, semua milenial termasuk yang dewasa pun harus punya jiwa bela negara. Karena kita ini di Indonesia harus ada yang kita banggakan di kancah internasional, kebanggaan kita sebagai warga bangsa,” tutur dia.

Trenggono menjelaskan, saat ini implementasi program bela negara masih dalam tahap pembahasan dengan Kemendikbud. Menurut dia, program bela negara nantinya akan digabungkan dengan program Merdeka Belajar.

 

Baca : Sertifikasi Sekolah Untuk Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Pendidkan Bela Negara akan digabungkan dengan Program Merdekan Belajar yang tengah digagas oleh Kemendikbud. Namun program Pendidikan Bela Negara prosesnya masih diperbincangkan oleh kedua pihak.

“Terkait dengan program mahasiswa, kita diskusi dengan menteri pendidikan dan kebudayaan, di sana itu ada program namanya Merdeka Belajar, mahasiswa itu mengambil satu kegiatan untuk belajar tentang bela negara,” ujar Trenggono.

 

Pendidikan Bela Negara Tidak Memaksa

Pelaksanaan Pendidikan Bela Negara bukanlah suatu paksaan bagi mahasiswa untuk mengikutinya. Program ini akan dilaksanakan secara sukarela, artinya mahasiswa bebas memilh untuk ikut atau tidak. Seperti layaknya merdeka belajar yang dapat membuat mahasiswa bebar belajar sesua minat dan bakatnya.

“Itu bukan sesuatu yang harus, artinya semacam pilihan kalau memang mahasiswa ingin, dia ingin bergaya, dia juga ingin belajar kedisiplinan gitu bisa,” ungkap Trenggono.

“Tapi, bagi mereka yang tidak berminat tidak apa-apa juga, jadi bukan sesuatu yang harus sifatnya,” tutur dia.

Sebelumnya diberitakan, Kemenhan tengah menjajaki kerja sama dengan Kemendikbud. Kerja sama ini guna merekrut mahasiswa terlibat dalam latihan militer melalui program bela negara.

 

Baca : Pendidikan Militer Untuk Mahasiswa Selama Satu Semester

“Nanti, dalam satu semester, mereka bisa ikut pendidikan militer, nilainya dimasukkan ke dalam SKS yang diambil. Ini salah satu yang sedang kita diskusikan dengan Kemendikbud untuk dijalankan,” ujar Trenggono dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8/2020).

Hal itu sesuai amanat dari Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara.

Dia menegaskan bahwa Komponen Cadangan (Komcad) merupakan bukan program wajib militer. Menurut Trenggono, itu hanya kesadaran dari masyarakat yang ingin membela negara jika terjadi perang.

Oleh karena itu, jika masyarakat ingin bergabung, akan difasilitasi dengan diberikan pelatihan selama beberapa bulan.

“Usai latihan, dikembalikan ke masyarakat. Jika negara dalam keadaan perang, mereka siap bertempur,” katanya.

 

Sumber : KOMPAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *