Pendidikan Jarak Jauh Membunuh Pendidikan Indonesia!

www.siswanesia.com

Dok. Pexel

 

Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) akan terus dilaksanakan meski banyak kendala. Sepertihalnya kendala teknis jaringan, hambatan sosial ekonomi biaya, kendala sosiokultural kesiapan adaptasi, maupun masalah substansi atau hakikat Pendidikan itu sendiri.

Pendidikan adalah suatu rangkaian proses, bukan semata-mata soal hasil. Hasil merupakan sebuah konsekuensi logis dari sebuah proses Pendidikan. Hal tersebut diutarakan oleh Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sekaligus sebagai pemerhati Pendidikan, Harun Joko Prayitno.

 

Baca : Pendidikan Jarak Jauh Rewel, Kemendikbud Buka Sekolah!

 

Membunuh Pendidikan

Dampak dari diterapkannya Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) secara terus menerus adalah dampak negative. Apa lagi penerapan berlangsung dari jenjang Pendidikan dasar hingga Pendidikan tinggi. Sedangkan dalam implementasinya Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) berjalan tanpa tahapan dan petunjuk teknis yang jelas. Diprediksi akan menimbulkan punahnya atau bahkan matinya Pendidikan (education death) dan punah atau matinya kepekaan sosial ( sosial death ).

“Hal itu sangat beralasan karena anak-anak yang masih dalam proses tumbuh dan berkembang tersebut hanya mengalami pertumbuhan secara fisik. Tetapi perkembangan mental dan kejiwaan pendidikannya mengalaman kemandegan,” ungkap Harun seperti tertulis dalam rilis yang diterima Republika, Ahad (9/8).

 

Baca : Nadiem Makarim Mengklaim Pendidikan Jarak Jauh Bukan Kebijakannya.

 

Menurut harun, siswa masih membutuhkan perkembangan mental dan kejiwaan sebagai makluk sosial. Ruang interaksi dan komunikasi serta kreatifitas dapat tersumbat. Siswa hanya menerima imajinasi Pendidikan dan tidak mendapatkan hak-hak Pendidikan empiris yang berinteraksi langsung dengan lingkungan belajarnya.

“Mereka juga akan memiliki trauma panjang bahwa belajar di sekolah dianggapnya belajar yang menakutkan, tidak aman. Belajar di sekolah dianggapnya sudah tidak ada lagi, tidak diperlukan lagi, dan belajar di sekolah bisa menimbulkan penyakit,” paparnya.

 

Baca : Nadiem Makarim Kembali Menuai Krikitan Terkait Pendidikan Jarak Jauh

 

Kembalikan Gerakan Kesekolah

Dengan perkermbangan wabah covid-19 yang belum jelas ini. Gerakan kembali kesekolah penting dilakukan. Tentunya dengan aturan protocol Kesehatan yang sangat ketat. Tentunya harus ada petunjuk teknis yang jelas dan tahapan yang benar. Menumbuhkan kembali Gerakan kesekolah, jaga kebersihan dan jaga Kesehatan.

Menurutnya, tiga pilar antara sekolah, kebersihan, dan kesehatan menjadi momen penting saat ini.
“Ini semua penting supaya tidak menjadi loss generation seperti dikemukakan oleh Mendikbud Nadiem Makarim akhir-akhir ini. Oleh sebab itulah, pilar belajar learning to do dan learning to leave together menjadi yang lebih penting dari pada sekedar learning to know dan learning to how secara online,” pungkasnya.

 

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *