Pendidikan Vokasi Penyumbang Pengangguran Terbanyak?

www.siswanesia.com

Dok. Pexel.com

 

Pendidikan Vokasi menjadi partisipan terbesar dalam menyumbang angka pengangguran di Indonesia. Pendapat tersebut disampaikan oleh pengemuka Pendidikan. Pernyataan tersebut membuat Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayan, Wikan Sakarinto kangkat bicara.

Anggapan tersebut tidak dibenarkan olehnya. Wikan mnegatakan bahwa seluruh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sudah sangat baik. Terbukti dengan pembaruan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan industry.

 

Baca : Kemendikbud Terapkan Sistem Buka Tutup Pendidikan Indonesia

 

“Setelah saya keliling ke berbagai SMK di Indonesia, setiap tahun kurikulumnya disinkronkan dengan industri. Ternyata hanya 20 persen yang menganggur, sedangkan 80 persennya bekerja, terserap, atau kuliah,” kata Wikan saat mengunjungi SMKN 27 Jakarta Pusat, Selasa (11 Agustus 2020) dikutip dari PikiranRakyat.

Menurut Wikan sebuah negara maju itu diukur dari kualitas vokasinya.

“Penting untuk membangun industri dan SDM unggul untuk meningkatkan produktivitas negara,” ujar Wikan.

 

Baca : Pulsa dan Ponsel Gratis Untuk Pendidikan Jarak Jauh

 

Pemilihan jenjang Pendidikan yang sesuai minat oleh peseta didik akan menentukan kualitas lulusan. Oleh karena itu proses belajar yang sesuai minat peserta didik akan menghasilkan Sumeber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

“Jika lebih menyukai analisis silakan masuk ke SMA, jika lebih menyukai keterampilan, silakan pilih SMK,” ungkap Wikan.

 

Berkolaborasi dengan Industri

Saat ini industry telah bekerja sama dengan Pendidikan Vokasi. Dengan membuat kelas khusus di SMK untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dibilang tersebut sesuai permintaan industry.

“Seharusnya sekarang lulusan SMK bisa langsung diserap industri, tak hanya yang besar tapi ada juga dari UMKM, Pemda, dan organisasi non-pemerintah (NGO),” katanya.

Dia menegaskan, lulusan SMK juga jangan sampai hanya menganggur. Lulus SMK jika tak langsung kerja tetap bisa kuliah, jadi lulusan sarjana terapan /D4 dan bisa lanjut S2 terapan.

“Kita sudah MoU dengan universitas di Jerman untuk bisa menyediakan S2 terapan di Jerman,” kata Wikan.

Salah satu kelebihan SMK, kata Wikan, adalah dapat menyalurkan minat anak.

 

Baca : Pulsa dan Ponsel Gratis Untuk Pendidikan Jarak Jauh

 

Hal bisa membuat anak belajar dengan lebih bahagia dan tanpa keterpaksaan.

“Sepertinya, kita masih harus menyadarkan orang tua siswa SMP se-Indonesia, kalau satu-satunyanya jalan untuk sukses di Indonesia bukan semata masuk SMA favorit, SMK juga bisa. Apalagi kalau di SMK dia belajar sesuai passion,” pungkas Wikan.

 

Sumber : Pikiran Rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *