Pengamat Minta Kemendikbud Siapkan Opsi Lain Asesmen Nasional

www.siswanesia.com

Dok. Pixaby

 

Pengamat Pendidikan Irianto menyambut baik keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Setelah keputusan mengganti Ujian Nasional (UN) ke Asesmen Nasional (AN).

Irianto meminta kepada Kemendikbud untuk menyiapkan rencana kedua. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi solusi kedua apabila pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) tidak berjalan baik. Irianto juga memberikan saran kepada Kemendikbud agar menerapkan penambahan satu tahun waktu belajar seperti yang pernah terjadi dimasa 1979/1980.

 

Baca : Beginilah Maksud Palas 65 UU Cipta Kerja Tentang Pendidikan.

“UN dan AN ditiadakan dan dilakukan penambahan waktu untuk pembelajaran, itu pernah dilakukan tahun 79-80, ini opsi yang bisa dipikirkan, tidak usah gengsi tidak usah malu, ya asesmen begitu saja, ditambah 1 tahun atau 6 bulan pembelajaran,” kata Irianto saat On Air di Radio PRFM 107.5 News Channel, Senin 12 Oktober 2020.

Sebelum dilaksanakannya Asesmen Nasional diharapkan para guru ataupun fasilitator yang ditunjuk harus benar-banar memahami apa aitu Asesmen Nasional. Irianto tidak ingin masalah yang timbul pada kegiatan pembalajaran daring terulang lagi. Yang disebabkan karena kurang pahammnya guru terkait pembelajaran daring, akhirnya guru hanya memberikan tugas kepada siswa. Padahal esensi dari pembelajaran daring tidaklah seperti itu.

“Tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan Mas Nadiem. Pertama, apakah guru sudah mengerti asesmen ini, jangan-jangan guru pun belum mengerti dengan asesmen ini,” ujarnya.

 

Baca : Kaget Pasal Pendidikan Ternyata Masuk UU Cipta Kerja

Bagaimana guru bisa memahami para siswanya dengan baik jika gurunya sendiri belum paham betul tentang Asesmen Nasional ini. Begitu juga dengan para siswa yang harus dibiasakan dengan penilaian seperti ini. Menurut irianto, hal-hal seperti itu harus dipahami guru secara menyeluruh.

“Jadi dengan waktu yang masih ada ini harus digunakan semaksimal mungkin oleh Kemendikbud untuk mencerdaskan guru-gurunya dulu. Kalau sudah cerdas dan paham, baru ada sosialisasi dari guru kepada muridnya, sehingga pelaksanaan dapat berjalan baik,” jelasnya.

 

Sumber : Pikiran Rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *