Tak Punya Smartphone Siswa Tidak Bisa Sekolah Online

www.siswanesia.com

Dok. Unsplash

 

Ajaran Baru Tahun 2020/2021 baru saja dimulai. Laporan perkembangan kegiatan pembelajaran secara online kini memasuki fase kedua. Banyak laporan yang mengatakan masih banyak siswa yang tidak memiliki smartphone. Sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan belajar secara online. Laporan tersebut tidak hanya datang dari daerah melainkan dikota besar seperti Jabodeabek.

“Persoalan hambatan selama PJJ tak hanya keterbatasan terhadap akses internet dan listrik tetapi juga pada kepemilikan gawai pintar,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, Kamis 23 Juli 2020.

Dalam satu keluarga sering didapati hanya memiliki satu smartphone yang dapat digunakan. “Itu pun dipegang orang tua. Alhasil tidak bisa ikut pembelajaran daring bersama teman siang hari,” kata dia.

 

Baca : Lima Prinsip Penentuan Tunjangan Profesi Guru Dari Kemendikbud

 

Menunggu Kebijakan Pemerintah

Kebijakan Negara sangat dibutuhkan untuk mengintersensi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). FSGI meminta kedapa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mendata pesertadidik serta guru yang belum memikili smarphone. Pendataan diperlukan hingga ke daerah yang masih memikili permasalahan dalam akses internet dan ilstrik.

“Jika dibiarkan berlarut-larut, maka disparitas kesenjangan kualitas pembelajaran dan pendidikan kita makin besar antara siswa yang PJJ luring (luar jaringan) dengan siswa PJJ daring,” katanya.

Dalam laporan yang sama FSGI memberikan catatan terhadap masih kurang berdampaknya koordinasi antara Lembaga listas Kementrian dan lempaga pusat dengan Lembaga yang ada didaerah.

 

Baca : Sekolah Pemuda Program Pendidikan Menyambut Bonus Demografi

 

46 Ribu Sekolah Tertinggal PJJ

Dalam laporannya Satriawan menyebutkan ada sekitar 46 ribu sekolah yang tidak dapat merasakan Pendidikan Jarak Jauh. Ini lantaran kondisi lingkungan tempat asal sekolah yang berada pada daerah tertinggal, terluar dan terdepan.

 

Baca : Merdeka Belajar Sangat Tepat Diterapkan Saat Pandemi, Begini Alasanya

Adapun cara yang bisa diterapkan pada kegiatan pembelajaran didaerah tersebut adalah dengan berkunjung. Prosesnya tenaga pengajar harus berkunjung kerumah siswa. Namun cara ini sangat tidak efektif karena jumlah guru yang belum mencukupi.

“Guru yang terbatas, waktu sangat terbatas, bahkan acap kali guru tak bisa berkunjung karena faktor geografis jauhnya rumah siswa di pegunungan yg sulit ditempuh guru,” kata Satriwan dikutip dari Tempo.

 

Sumber : Tempo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *