Pendidikan Vokasi Bukan Sekedar Menciptakan Seorang Tukang

www.siswanesia.com

 

Hermawan kertajaya seorang pakar marketing memberikan semangat dan dorongan kepada siswa lulusan vokasi. Mulai dari pendidikan vokasi hingga sekolah tinggi vokasi untuk tidak berhenti pada istilah tukang. Menurutnya siswa sekarang tidak boleh hanya mampu mengatasi masalah teknis. Hermawan juga menyampaikan bahwa pendidikan vokasi dan sekolah tinggi vokasi harus mampu memerikan pendidikan kewirausahaan kepada siswanya.

“Kalau melamar pekerjaan, ‘tukang’, naik jadi supervisor, paling tinggi manager. Tapi kalau dikasih skill entrepreneurship akan berbeda,” kata Hermawan dalam webinar sosialisasi Tingkat Ketertarikan Masyarakat terhadap Pendidikan Vokasi yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemdikbud, Jumat (9/4/2021).

 

Baca : Uji Coba Sekolah Tatap Muka Keselamatan Jadi Prioritas

Hermawan juga mencontohkan bahwa siswa yang lulus dari pendidikan vokasi atau sekolah tinggi vokasi yang mempunyai bekal kewirausahaan akan lebih berani. Siswa ini akan berani mendekati pemodal untuk bekerja sama dalam bentuk usaha baik sesuai dengan kompetensinya atau tidak. Mereka akan berani mengambil risiko misalnya untuk membuka workshop atau bengkel. “Lama-lama dia akan bisa memasarkan diri, misalnya bidang animasi, bisa saja Hollywood yang datang untuk memesan,” kata Hermawan.

 

 

Bukan Sekedar Profesional

Seorang profesional akan berbeda dengan yang memiliki jiwa kewirausahaan. Dalam hal ini jiwa kewirausahaan membawa para siswa untuk lebih berani mengambil risiko, melihat kesempatan dan mampu bekerja sama dengan orang lain. “Kalau profesional biasanya hanya melihat ancaman. Misalnya, pandemi dilihat sebagai ancaman, tidak berani mengambil risiko dan tidak bisa bekerja sama dengan orang lain karena menganggap diri paling pintar,” katanya.

 

Baca : Literasi Mempengaruhi Biaya Pendidikan Dimasa Depan

Hermawan mengaku sudah membuktikan sendiri bahwa dirinya bisa sukses dengan mempelajari ilmu kewirausahaan dan pemasaran. Meskipun tidak lulus sebagai sarjana teknik elektro, dia mengatakan tetap bisa memiliki gelar Doktor Honoris Causa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). “Bahkan saya bisa menulis dengan Philip Kotler (profesor pemasaran Amerika),” katanya.

Dia mencontohkan salah satu kampus pariwisata di Bali yaitu Elizabeth International ternyata tidak melatih mahasiswanya untuk mempelajari teknik pemasaran. “Mahasiswa cuma diajarkan jadi front office, kitchen. Marketing gimana? Bingung. Biasanya ambil lulusan marketing dari Fakultas Ekonomi. Padahal kalau lulusan perhotelan mendapat sertifikasi marketing, maka dia akan semakin kuat,” kata Hermawan.

 

 

Sumber : Beritasatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *