Saat Pandemi Mending Nikah Apa Sekolah?

www.siswanesia.com

Photo by freestocks.org from Pexels

 

Dampak dari pandemi Covid-19 selain pada sektor kesehatan juga mempengaruhi pendidikan khususnya pada anak remaja. Menurut Doni Koesoema sejumlah anak putus sekolah dan memilih untuk menikah walaupun usianya terbilang masih muda. Saat ini pihaknya mendesak pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut.

 

“Di beberapa daerah selama pandemi apa yang terjadi ternyata mereka katakan, seperti di Ketapang (Kalimantan Barat). Mereka bilang ‘saya tidak mengerti kebijakan muluk-muluk, tapi yang saya tahu di Ketapang selama pandemi anak-anak SMP banyak putus sekolah dan mereka menikah’,” kata Doni yang merupakan pendiri Pendidikan Karakter Education Consulting saat dihubungi Beritasatu.com, Kamis (1/7/2021).

 

Baca : Pendidikan Modern Indonesia Sebentar Lagi Akan Terwujud

 

Doni mengatakan learning loss benar-benar terjadi berdasarkan penelitian dari Lembaga penelitian Singapura, ISEAS-Yusof Ishak Institute. Disebutkan, hampir sekitar 5 juta anak Indonesia selama 1 tahun pandemi tidak belajar sama sekali. “Ini besar angka 5 juta. Mereka tidak belajar kenapa? Karena gurunya tidak ada akses dan anak-anak tidak bisa sekolah,” kata Doni.

 

Masa Depan

Kejadian seperti ini banyak terjadi di Provinsi Kalimantan Barat. Situasi tersebut sangat mengkhawatirkan, pasalnya siswa menjadi kehilangan masa depan dan dapat berisiko bagi kesehatan reproduksi.

 

“Persoalannya siapa yang harus tanggung jawab untuk membereskan persoalan ini? Bukankah harus didata oleh dinas pendidikan setempat, kepala daerah, bagaimana nasib anak-anak ini?” katanya.

 

Baca : Orang kaya Bisa Bebas Pajak Pertambahan Nilai Pendidikan

 

Satgas Covid-19 menyebutkan tidak memungkinkannya melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka disekolah. Varian baru dari Covid-19 yang menyebabkan kasus positif menjadi meningkat bukan hanya dari mobilitas orang saja. Hal tersebut membuat pembelajaran tatap muka menjadi semakin berisiko.

 

Doni mendorong 2 hal penting harus dilakukan bersama-sama antara keluarga dan pemerintah. Pertama, keluarga harus berperan serta dalam pendidikan anak di rumah. “Ayo ayah, ibu, saudara, kakak, adik, sama-sama diajarkan anak, keponakannya, diajak tetap belajar di rumah supaya mereka tidak kehilangan pengalaman belajar,” ujarnya.

 

Inovasi Pemerintah

Pemerintah harus memberikan inovasi untuk menyediakan konten digital berisi materi pembelajaran yang dapat diakses secara digital menggunakan ponsel masing-masing siswa. sehingga pembelajaran tetap berlanjut meskipun secara mandiri dari rumah.

 

Baca : Semua Sekolah Didorong Menjadi Sekolah Terbaik

 

“Misalnya anak kelas 1 SD mengerjakan soal-soal ini, lalu dikasih nilai. Cek di materi. Ini sebenarnya bisa dibuat program dan aplikasinya,” kata Doni.

 

Rintangan yang harus dilewati pemerintah adalah bagaimana memeratakan pendidikan digital ini agar dapat dinikmati oleh seluruh elemen pendidikan di Indonesia. Khususnya pemerintah daerah yang memiliki kualitas jaringan internet yang kurang baik. Jakarta saja masih menyisakan 9% anak yang belum bisa mengakses internet karena tidak memiliki ponsel.

 

“Ini tugas pemda dan pusat untuk mengecek kebutuhan sekolah atau anak. Harus ada intervensi khusus,” katanya.

 

Sumber : BeritaSatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *